Penyebab Bayi Lahir Tidak Menangis dan Penanganannya

Saat bayi lahir, tangisan menjadi hal yang paling ditunggu-tunggu setelahnya. Tangisan bayi merupakan reaksi awal dari bayi yang menandakan jika paru-parunya mulai berfungsi. Bukan hanya itu, tangisan dari bayi juga merupakan reaksi atas berubahnya kondisi bayi yang selama ini berada di dalam rahim ibu.

Lantas bagaimana jika bayi yang dilahirkan tidak segera menangis? Apa penyebab dan bagaimana cara menanganinya? Ada banyak faktor kenapa bayi yang dilahirkan tidak menangis mulai dari faktor sebelum persalinan, selama persalinan hingga faktor setelah persalinan.

1.Faktor sebelum persalinan

Beberapa faktor yang mempengaruhi kelahiran bayi prematur sebelum persalinan antara lain adalah sebagai berikut.

a.Ibu hamil menderita diabetes mellitus

Ibu dengan gangguan penyakit diabetes mellitus dapat menyebabkan terjadinya sindrom gawat napas, fraktur, trauma lahir serta asfiksia pada bayi.

b.Ibu dengan panggul yang sempit

Disproportio sefalo pelvik atau panggul sempit terjadi ketika ukuran tulang pelvic ibu memiliki bentuk dan ukuran yang tidak tepat untuk melintasnya kepala bayi.

c.Infeksi pada ibu

Penyebab yang selanjutnya adalah ibu menderita anemia atau penyakit infeksi yang berakibat pada janin dalam kandungan mengalami retardasi pertumbuhan dalam rahim.

d.Pendarahan antepartum

Pendarahan sebelum melahirkan dapat terjadi karena kelainan plasenta, plasenta terlepas dari perekatnya sebelum bayi lahir serta kelainan insersi tali pusat.

e.Ibu menderita preekalmpsia

Preeklampsia ditandai dengan meningkatnya tekanan darah pembengkakan serta terjadinya proteinuria. Gangguan ini berakibat pada prematuraritas, sindrom gawat napas hingga kematian janin.

2.Faktor selama persalinan

Penyebab bayi terlahir tidak menangis yang selanjutnya adalah karena persalinan yang memakan waktu lama, persalinan sungsang, hingga jalan lahir yang sempit. Penyebab tersebut memicu bayi kesulitan dalam bernapas dan membuat bayi tidak menangis setelah dilahirkan.

Penekanan tali pusat, tumor rahim serta bayi kembar juga beresiko menganggu pernapasan bayi.

3.Faktor setelah persalinan

Bayi yang tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur atau yang disebut juga dengan asfiksia neonatrum adalah keadaan yang dapat menurunkan oksigen. Kondisi ini dapat meningkatkan karbondioksida yang beresiko memicu kondisi bayi memburuk setelahnya.

Asfiksia neonatrum dapat terjadi karena infeksi akut, uremia, toksomia gravidarum, cacat bawaan, trauma, serotinus, keracunan obat bius hingga ibu hamil yang kekurangan gizi.

Cara Menangani bayi yang terlahir tidak menangis

Menangani bayi yang terlahir namun tidak menangis setelahnya, dapat dilakukan setelah bayi dibersihkan terlebih dahulu. Segera tutup bayi menggunakan kain bersih dan kering pada seluruh bagian tubuh bayi, kecuali bagian telapak tangan jika memang bayi memungkinkan untuk dilakukan inisiasi menyusui dini.

Lakukan respirasi artifisialis menggunakan alat yang dapat mengalirkan O2 dengan tekanan alat 12 mmHg ke dalam mulut. Selain menggunakan alat khusus, cara mengalirkan O2 dapat pula dilakukan dengan cara mouth to mouth repiration, menekan dan melepaskan dada bayi serta herat message.

Tindakan awal harus dilakukan dengan baik dan sempurna demi menjaga kelangsungan hidup bayi sekaligus mencegah gejala lanjutan yang dimungkinkan dapat terjadi setelahnya.

Tindakan dari dokter atau petugas kesehatan memiliki andil yang besar dalam menentukan kondisi dari bayi yang dilahirkan. Dengan alasan tersebut, ada baiknya ibu memilih tempat bersalin dengan kualitas bagus dan fasilitas kesehatan yang memadai guna menghindarkan bayi dari hal buruk yang dapat terjadi.

Untuk mencegah terjadinya gangguan di saat persalinan, ada baiknya ibu melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin ke dokter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *